Hunian Apartemen Modern Di Tanah Budaya, Yogyakarta

Hai pembaca LK..

Seperti yang Anda tahu, suka atau tidak suka, setiap Rabu Anda akan mendapat update cerita dari saya. Well tema kali ini akan ngobrolin salah satu tempat favorit, Yogyakarta. Oh ya, sebelumnya fotografer LangkahKami sudah mengulas tentang Jogja pula tentang “EKSOTISME KAMPUNG PURBAYAN, SUDUT INDAH DI KOTAGEDE“. Nah saya akan ngobrol lebih dari sisi globalnya.

Ada begitu banyak alasan kenapa Anda harus bisa menyukai provinsi ini, mulai dari banyaknya pemandangan alam yang ditawarkan di pesisir pantai, kota pelajar dengan beraneka ragam mahasiswi-nya, hingga keelokan budayanya. Ah, susah ditolak bukan?

Yogyakarta, bersama Bandung, Jakarta, dan Bali bisa dibilang kawasan para seniman. Banyak karya yang ditampilkan dan seniman yang dilahirkan setiap tahunnya. Tetapi, seperti halnya kota-kota lain di Indonesia, daerah ini juga terus berbenah menuju abad modern.

Yups, permukaan tanah kesultanan ini telah berubah luar biasa banyak. Kalau dulu gedung pencakar langit disematkan di Ibukota Jakarta, sekarang Yogyakarta sudah mulai kelihatan satu-dua gedungnya. Kebanyakan hotel memang, yang mengakomodasi turis yang semakin membludak.

Beberapa tahun terakhir, bisnis apartemen di Yogyakarta juga semakin menggeliat. Namun demikian, banyak juga ganjalan terjadi, seperti misalnya sengketa lahan. Secara sekilas saya juga melihat bahwa meski orang yang datang semakin bertambah, nampaknya terlalu berlebihan jika kita bilang bahwa sudah tidak ada lahan tanah yang bisa dibuat rumah konvensional.

Ah itu memang asumsi-asumsi dasar saja, yuk kita liat bareng-bareng.

Populasi Jogjaaa. . .

Coba deh kita lihat Jakarta dulu, berapa sih luas dan jumlah penduduknya? Tanpa lautan, sesuai catatan BPS, Jakarta memiliki luas 661 km2 dan penduduk 10 juta orang. Jadi kalau orang Jakarta semua bergandengan tangan maka akan sampai ke Sydney. Bagaimana dengan Jogja?

Kalau data yang ini dari wiki, dengan luas wilayah provinsi DIY yang mencapai 3.158 km2, ternyata dihuni oleh 3,4 juta jiwa. Memang faktor kontur atau geografis berpengaruh, namun kalau gampangnya berarti kan masih ada space kosong yang layak untuk dijadikan “rumah”.

Kalau dari hitung-hitungan tadi, maka arah pembangunan apartemen modern tentu bukan karena kebutuhan lahan yang semakin sempit. Tetapi lebih condong karena ada peluang pasar, yups tepat sekali.

Pelajar yang datang di Jogjakarta bukan orang miskin, banyak diantara mereka yang anak orang berduit dari luar pulau Jawa. Ada sedikit cerita ketika saya masih kuliah di Jakarta, dan saya KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Jogja. Well, meski di kampus saya tidak ada KKN, karena pengen tau saya gabung ke kampus temen yang ada di Jogja.

Di zaman itu sekitar tahun 2008, mahasiswa macam kami ini masih naik motor. Untungnya sih bukan motor pinjaman. Nah pas saya menuju lokasi KKN malem-malem, nabrak mobil jazz. Duh, repot ni kalau yang keluar Bapak-bapak berkumis tebel!

But, you know what?

Keluarlah sesosok wanita anggun dengan jeans dan kaos putih ketat, manis sekali. Seorang mahasiswi dengan plat luar Jawa. Dengan elok dia hanya bilang

“Mas.. Lain kali hati-hati ya bawa kendaraannya. Kan bahaya.”

Oohh

Okay, beberapa kalimat memang ga ada hubungannya dengan topik, tetapi saya mau bilang bahwa banyak orang kaya di Jogja.

Nah orang muda nan kaya inilah market pasar apartemen modern di Jogja, meski tidak tinggal di sana, tetapi beberapa anggota keluarga dan teman tinggal di kota pelajar itu. Bahkan beberapa dari mereka nampak tertarik untuk mencoba tinggal di apartemen, alasannya sederhana. Kayaknya “nyaman dan keren”.

Kearifan Lokal

Bagaimanapun Jogja tetaplah Jogja, kota budaya yang santun, memiliki nuansa khas kesultanan dan alam yang menggairahkan. Saya sangat paham seandainya terjadi banyak pertentangan ketika dihadapkan pada kondisi pembangunan apartemen modern di beberapa titik provinsi ini.

Kalau Anda pernah hidup di Yogyakarta 10 tahun yang lalu dan dibandingkan dengan sekarang, memang beda jauh rasanya. Sekarang kemacetan lebih parah dibandingkan satu dekade sebelumnya. Konsekuensi dari kemajuan pembangunan di Yogyakarta.

Sejatinya untuk negara berkembang, memang kawasan yang tumbuh ke metropolitan akan menjadi semakin macet. Sehingga wajar rasanya jika masyarakat yang sebelumnya sudah tenang dalam keseharian, akan terusik kemungkinan macet sebagai dampak pembangunan apartemen. Kekhawatiran terhadap lingkungan juga akan muncul, terlebih perlu dilihat dahulu siapa pengembangnya. Takutnya track record mereka kurang baik dalam menjaga keseimbangan alam.

Namun demikian, apabila memang sudah terbangun, apakah layak untuk mengoleksi salah satunya?

Kalau tujuan Anda untuk disewakan, nampaknya okay-okay saja. Kebetulan saya sempat menuliskan cara cepat sewa apartemen di blog pribadi, yang mengupas apa saja yang harus diperhatikan sebelum menyewakan apartemen. Namun kalau untuk tempat tinggal, rasanya rumah joglo di Jogja akan lebih aduhai.

Demikian sobat, semoga menyenangkan.

Leave a Reply