EKSOTISME KAMPUNG PURBAYAN, SUDUT INDAH DI KOTAGEDE

“mas lurus aja nanti ada gerbang kecil mirip pintu terus masuk aja disitu ada sederet rumah joglo ….”

dengan logat jawa nya yang kental seorang pria paruh baya mencoba menunjukan arah dimana kampung purbayan berada. Saya mencoba memperhatikan sepanjang jalan untuk memastikan dimana gapura itu berada. Dua puluh meter tepat disisi kiriku nampak sebuah pintu mirip sebuah gapura dan tebakan saya pun benar, sebuah gang nan rapi terlihat berjejer rumah-rumah joglo disisi kanan dan kiri.

Sedikit bercerita, kali ini saya akan mencoba mengulas tiap sudut di kampung Purbayan. Sudut-sudut bangunan peninggalan zaman kerajaan Mataram Islam yang masih bisa kita lihat berpadu dengan culture jawa yang sangat khas.

Saya ditemani mas Ari yang kebetulan asli jogja, kedatangan saya yang mendadak tidak serta merta membuatnya repot karena pas kebetulan hari itu mas Ari lagi kosong jadwalnya. Beruntung sekali ya, namanya juga rejeki dan pas waktunya.

Kampung Purbayan

Kampung purbayan itu sendiri adalah perkampungan jawa kuno yang merupakan cikal bakal adanya rumah bergaya joglo di jogjakarta. Saya sendiri baru tahu ketika teman saya yang asli jogja membuka obrolan tentang Kotagede. Betul memang kalau kampung purbayan terletak di jantung nya Kotagede.

baca juga : kejutan menembus malam di Gunung Kidul

teras rumah dikampung purbayan yang sejajar rapi, penataan yang teratur dan kondisi bangunan yang tidak banyak berubah

beberapa rumah joglo mengedepankan ornamen pada jendela dan pintu yang khas

Bayangan saya tentang kampung purbayan terbayar sudah, atmosfer yang adem ketika melangkah masuk ke lorong/gang dan suasana yang jauh dari hiruk pikuk warga. Terlihat beberapa orang sedang bercengkrama di depan rumah tempat saya mengamati tak jauh dari gapura atau pintu masuk.

Yang saya suka dari menjelajah tempat-tempat bernuansa history adalah bahwa saya seolah diajak berfantasi ke masa dimana sejarah itu ada. Seperti membayangkan pada masanya, alur waktu berjalan, orang-orang yang hidup di masa itu ( oke, kok agak serem untuk bagian yang ini ya..).

saya mencoba bertegur sapa dengan warga yang sedang asyik bercengkrama. Mungkin lebih kepada minta ijin untuk sekedar melihat-lihat koridor beberapa rumah joglo tersebut.

atmosfer yang damai, sejenak kita dibawa ke masa dahulu, jauh dari hiruk pikuk kota

yang khas dari bangunan joglo adalah ke empat tiang yang berada didalam rumah tersebut, kokoh menopang!

Sedikit penggambaran saya kalau ada beberapa detail yang saya tangkap dari rumah joglo ini. Dari tampak luar, di tiap daun pintu terdiri dari 2 yang ukuranya simetris lalu di percantik dengan posisinya yang ditengah. Lalu masuk kedalam di ruang tamu terdapat empat buah tiang penyangga yang posisinya bersejajar membentuk persegi di bagian tengah. Dan yang paling utama adalah seakan rumah joglo sudah paten harus menghadap ke utara atau ke arah selatan.

model pintu yang agak lebar dan terbagi menjadi dua, papan nama menandakan pemilik rumah tinggal

an authentic style of vintage look

Saya seperti terhipnotis ke masa dahulu saat melihat beberapa ornamen yang dipajang melengkapi rumah joglo tersebut. Sekumpulan meja kursi yang terlihat vintage, bahkan sepotong papan nama yang terletak diatas pintu menjadikannya tetap orisinil pada jamannya.

Jogja memang istimewa, terutama kotagede dengan kampung purbayannya. Menengok tentang kotagede selain kampung purbayan terdapat juga komplek pemakaman raja pertama kerajaan mataram. Bangunan komplek pemakaman ini menyatu dengan masjid Kotagede yang merupakan peninggalan dari raja pertama mataram sang panembahan Senopati.

gerbang masuk ke area komplek pemakaman sang Panembahan Senopati sekaligus pinti gerbang masjid

terlihat beberapa bagian masjid yang mengalami pemugaran, bangunan utama tetap mempertahankan bentuk aslinya

Bangunan komplek ini masih terpengaruh akan kebudayaan Hindu terlihat dari gapura masuk dan beberapa ornamen lain yang menurut saya masih berbau abad ke-18. Beberapa sudut mengingatkan akan kemasyuran kerajaan Hindu sebelum masuknya kerajaan Islam di tanah mataram, jogja.

beberapa ornamen relief di sudut-sudut bangunan yang merupakan gerbang di komplek pemakaman

sudut lain di area komplek pemakaman

Wah sungguh kaya ya ternyata kotagede, baru beberapa jengkal saja saya beranjak dari kampung purbayan sudah bisa melihat area komplek makam Raja mataram beserta masjid yang banyak nilai history nya. Tapi jangan puas dengan itu masih ada beberapa spot lagi yang menjadikan kotagede begitu megah pada masanya.

Rumah Pesik nan megah

Sekitar 5 menit berkendara saya sudah menemukan bangunan megah lainnya. Namanya rumah pesik, atas kepemilikan seorang bernama Rudy pesik. Yang menarik dari saya adalah ada banyak kesan saat saya mengamati sisi luar bangunan rumah pesik tersebut. Terlihat relung-relung relief patung di dinding nya serta pilar-pilar yang menonjolkan ornemen detil. Dari beberapa sumber rumah pesik ini sempat mengalami beberapa pindah kepemilikan salah satunya oleh pasangan indonesia-amerika, dan beberapa perombakan tentunya sehingga terlihat seperti bangunan yang sekarang ada.

Kesan elegan, dan (agak) mistis menurut saya melihat gerbang yang selalu tertutup. Memang agak susah untuk bisa mengakses masuk ke rumah pesik tersebut. Dan mungkin sesuatu akan lebih indah memaparkan imajinasi akan isi di dalamnya ketika kita penasaran. Mungkin memang sang pemilik lebih mengutamakan privasi atau mungkin faktor keamanan.

labirin lorong di sepanjang bangunan rumah Pesik

relief yang disisipkan di dinding bangunan rumah Pesik

ornamen pada pintu gerbang utama rumah Pesik

Saya mengamati lorong di sepanjang rumah pesik ini, orang berlalu lalang tak begitu ramai. Atmosfer jogja memang selalu bikin rindu.. hehehehe. Berada tepat disamping komplek bangunan rumah pesik terdapat sebuah bangunan tempat bersembahyang yaitu langgar dhuwur.

Langgar Dhuwur

Langgar itu sendiri dalam bahasa jawa merupakan rumah tempat peribadatan umat muslim yang setingkat di bawah masjid. Dhuwur sendiri bermakna tinggi atau berada diatas. Jadi jelas kalau Langgar dhuwur merupakan suatu tempat beribadah yang posisinya berada diatas sedangkan dibawahnya terlihat digunanakan sebagai rumah tinggal.

Terlihat bangunan yang beberapa kali mengalami pemugaran tanpa mengurangi fungsi utama dari langgar dhuwur tersebut yaitu sebagai mushola atau tempat beribadah sampai sekarang. Kalau mengkalkulasi usia bangunan tersebut saya rasa sudah lumayan tua mengingat langgar dhuwur ini masuk ke dalam warisan cagar budaya di Kotagede.

bangunan Langgar dhuwur yang berdekatan dengan rumah pesik, terlihat beberapa bagian yang sudah mengalami perubahan dan tersamar dengan bangunan di kanan-kiri

area komplek di sekitar Langgar dhuwur, dominasi warna putih yang bersih

aktifitas disekitar jalan utama Kotagede

Wah penelusuran spot arsitek bangunan bersejarah di Kotagede belum selesai disini loh masih banyak bangunan bergaya arsitektur lama yang memang menarik untuk dilihat.

Datanglah saat pagi hari, kita bisa lebih detil untuk mengeksplore kawasan kotagede selain bisa melihat masyarakat setempat beraktifitas. Spot –spot menarik yang musti kita lihat dengan tetap memperhatikan adat setempat atau unggah-ungguh.

Ah memang menyenangkan ketika hobi berbaur dengan pengetahuan akan sejarah meskipun saya mungkin kurang detil dalam pemaparannya. Gambaran akan sejarah masyarakat mataram jawa sungguh beragam. Lebih puas lagi ketika kita secara langsung melihatnya melalui beberapa peninggalan yang berupa bangunan khas nya. Atau sekedar bertanya kepada masyarakat sekitar akan kemegahan pada jamannya.

sampai bertemu di sudut fotografi selanjutnya ya …

Architecture belongs to culture, not to civilization  – Alvar Aalto

2 Comments

  1. Adelina Tampubolon Maret 11, 2017
    • Kurniawan Maret 12, 2017

Leave a Reply