Kisah Bandung, 19 – 20 November 2016.

November, tepatnya Jum’at tanggal 18 jam 4 pagi kami melangkah bersama untuk pertama kalinya. Bandung merupakan kisah pertama kali kami melangkah. Tepat jam 6 pagi kami berjumpa dengan Bandung.

Karena perjalanan lancar, kami sampai lebih awal dari jadwal penjemputan mobil yang akan mengantar kami berkelana di Bandung. Satu jam memang waktu yang singkat, tetapi momen tersebut kami gunakan untuk bercanda ria sehingga waktu kami bisa dinikmati dengan baik. Dan kisah Bandung “Langkah Kami” yang pertamapun dimulai.

Menikmati pagi

Perut mulai memanggil untuk diisi dan saat mobil menjemput jam 7 , hal pertama yang kami putuskan adalah mencari tempat makan. Dengan perdebatan singkat akhirnya kami memutuskan mengisi perut pagi itu di GOR SAPARUA.

Ada banyak pilihan makanan disana dan saya memilih soto karena butuh makanan hangat. Soto dengan teh manis hangat adalah paduan sempurna buat sarapan saya saat itu. Selain soto menjadi pilihan kawan lainnya, ada juga yang memilih bubur.

Niat hati untuk menunggu salah satu kawan yang belum sampai di Bandung, kami memutuskan untuk mencari kedai kopi. Tetapi apa daya, hari masih terlalu pagi, kedai kopi yang kami cari semuanya masih tutup. Sedikit kecewa tetapi hal itu tidak mengurangi rasa bahagia kami.

Akhirnya kami memutuskan langsung menjemput kawan tersebut di stasiun dan kisah Bandung dalam “Langkah Kami” yang pertama pun berlanjut.

The Lodge Maribaya

Anggota semua sudah berkumpul dan dengan hati gembira kami meluncur ke tujuan pertama, The Lodge Maribaya, tempat yang saat ini sedang hits di Bandung. Saya sendiri merasakan perjalanan saat itu sangat seru karena salah satu kawan kami mengerti sejarah. Di sepanjang perjalanan kami mendengarkan celotehnya dan sesekali saya bertanya mengenai tempat yang dilewati.

“Oke Gara” adalah keyword kami dalam perjalanan kisah Bandung “Langkah Kami.” Gara adalah kawan kami yang sangat menyukai sejarah karena itulah saat kami ingin tahu sejarah suatu tempat maka kami langsung berkata “Oke Gara.” Selanjutnya dengan senang hati dia akan bercerita.

Temukan juga tulisan Gara mencari jejak.

Jam 11.15 WIB kami sampai di The Lodge Maribaya. Kesan pertama yang saya temui adalah “PADAT”. Ya, The Lodge dipadati dengan pengunjung dan setelah dicari tahu lebih detail memang tempat itu selalu ramai.

The Lodge Maribaya

Ramainya pengunjung membuat kami tidak merasa nyaman dan tempat itu tidak seperti yang kami harapkan. Jadwal menikmati tempat itu kami persingkat namun sebelumnya tetap menikmati makanan yang dijual oleh resto disana sambil mencari tahu lebih detail tentang The Lodge.

The Lodge Maribaya

Walau tujuan utama kami – The Lodge – tidak sesuai harapan, kisah Bandung “Langkah Kami” tetap diisi dengan hal yang menyenangkan karena Iwan sang fotografer kami mengabadikan momen-momen kami dengan indah.

Burgundy Dine Wine.

Saat di The Lodge Maribaya kami menikmati makanan ringan karena kami memutuskan mencari tempat yang lebih tenang. Di sepanjang jalan kembali perdebatan kecil terjadi untuk memutuskan tempat makan siang.

Burgundy Dine Wine menjadi bagian kisah Bandung “Langkah Kami.” Disanalah kami menikmati makan siang. Dan surprise, ketika kami memasuki tempat itu, kami langsung suka dengan suasananya.

Nyaman, tenang dan indah mungkin kata yang tepat buat Burgundy Dine Wine. Harga makanan disana memang sedikit lebih mahal tetapi kami puas karena bagi kami pas dengan rasa dan suasana disana.

“Selalu ada hal yang baik di setiap hal yang kurang tepat”

Hal itu terlintas di benak saya saat itu, karena tempat sebelumnya kurang menarik dan tidak seperti harapan tetapi kemudian digantikan dengan tempat yang jauh lebih baik padahal tempat tersebut tidak ada dalam agenda kami.

Cukup lama kami menikmati tempat itu karena selain tidak terlalu ramai, suasana di sana sangat bagus untuk objek foto. Namun karena salah satu diantara kami kondisi badannya kurang mendukung alias sakit, terpaksa kami meninggalkan tempat itu.

Check In di Hotel Sheraton Bandung.

Jam 4 sore kami mendarat di Hotel Sheraton Bandung dan setelah check-in kami menikmati suasana di kamar. Saya sendiri suka dengan suasana hotel tersebut. Bangunan putih dengan interior yang indah.

Tidak terasa malam menjemput dan kami memutuskan untuk mencari makan malam di luar. Dengan ditemani rintik hujan kami meluncur mencari mie kocok. Walaupun agak jauh, Mie Kocok Mang Dedeng memang layak untuk dicoba.

Karena harus bangun pagi, setelah makan kami langsung kembali ke hotel dan beristirahat.

Sunrise Tebing Keraton

Kisah Bandung “Langkah Kami” selanjutnya adalah menikmati pagi di Tebing Keraton. Jam 4 pagi saya sudah siap dan kami meluncur. Dengan menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dengan mobil dari Hotel Sheraton Bandung ke kaki Tebing Keraton dan selanjutnya berjalan kaki sekitar ± 2.5 km. Walaupun ada yang menawarkan jasa ojek, kami memilih untuk berjalan kaki karena pagi hari waktu yang tepat untuk berolahraga.

Menuju Tebing Keraton

Seperti diberitakan orang, Tebing Keraton memang pantas menjadi salah satu tujuan wisata di Bandung. Tempatnya memang indah dan ketika saya menikmati Tebing Keraton, kembali saya bersyukur bisa melihat lukisan Tuhan ditempat itu.

Tebing Keraton

Kawan-kawan yang lain juga merasakan apa yang saya rasakan. Tebing Keraton memang tempat yang indah. Yang menjadi lengkap dari perjalanan kami di Tebing Keraton adalah ketika pulang dari sana kami mampir di sebuah warung kopi penduduk setempat.

Mie, kopi dan teh hangat menjadi teman percakapan kami pagi itu. Rasanya ingin waktu tidak segera menjemput karena pagi di warung itu kami semakin mengenal satu sama yang lainnya.

Curug Dago

Sebelum kembali ke hotel, kami menyempatkan diri ke salah satu situs yang berada di Dago, namanya Curug Dago. Dengan berjalan kaki kurang lebih 15 menit dari jalan raya.

Air terjun disana memang deras namun tidak seindah kisah dibalik itu. Temukan kisah detailnya di xxx

Tidak lupa kami juga mengabadikan keindahan tempat itu.

Curug Dago

Menikmati Sheraton Bandung.

20 November 2016, kisah Bandung “Langkah Kami” berakhir dengan menikmati hotel Sheraton kembali. Makan pagi bersama dengan melihat hasil foto-foto di sepanjang perjalanan menjadi salah satu momen yang paling saya sukai dalam perjalanan di Bandung.

Tepat jam 12 siang kami check-out dari hotel dan meluncur ke tempat makan siang sebelum kembali ke Jakarta.

Hotel Sheraton Bandung

Indahnya kisah Bandung “Langkah Kami”

Setiap perjalanan selalu ada kisah yang saya dapatkan dan dalam kisah Bandung langkah kami pertama ini saya belajar kembali bahwa

“Bersama orang yang tepat selalu ada hal yang baik dibalik harapan yang tidak sesuai.”

Agenda The Lodge Maribaya yang semula tidak sesuai dengan harapan digantikan dengan Burgundy Dine & Wine.

Selain itu, catatan penting saya di perjalanan ini adalah saya mengenal lebih dekat kawan-kawan “Langkah Kami” dengan keunikan masing-masing. Dilihat dari karakter kami sangat jauh berbeda tapi satu harapan kami ketika melangkah kesatu tujuan adalah melihat sesuatu dari berbeda sisi.

Leave a Reply