Masa Depan Pedagang Kaki Lima Di Jakarta

pedagang kaki limaYo pembaca Langkah Kami!

Entah darimana tiba-tiba pengen makan cemilan dari pasar, naasnya sekarang hari kerja dan saya dikantor. Terlebih lagi, selera ngemil masih ndeso macam martabak dan pizza. Ah sudahlah, intinya dulu saya seneng banget diajak Ibu kalau jalan-jalan ke pasar di kampung. Makanan berlimpah dan warganya ramah-ramah.

Sekarang lain cerita karena sudah gede dan di Jakarta pula, nah jadi kepikiran sebenarnya ada bagaimana sih kondisi pasar tradisional dan pedagang kaki lima di Jakarta?

Kalau ngomong pasar tradisional, ternyata masih banyak memang di Jakarta. Ketika saya masih tinggal di daerah Rawasari, Jakarta Pusat, pasar tradisionalnya malah di dekat gang-gang. Dan rata-rata memang begitu. Aneka jualan, tapi belakangan semakin tergusur dengan ekspansi minimarket yang masif.

Bagaimana dengan pedagang kaki lima?

Lebih dari seribu PKL terdaftar di Dinas Koperasi, UKM serta Perdagangan DKI Jakarta, dari data yang di download tepatnya ada 1.202 PKL yang bisa dihubungi lengkap dengan no telepon dan alamatnya. Hebat ya!

Kalau mau gambaran kasar 5% dari populasi orang Jakarta, ternyata jauh lebih banyak. Bahkan bisa dibilang mencapai angka 500 ribu pedagang kaki lima, fantastis!

Angka itu sebenarnya tidak mengherankan, karena pembangunan yang sangat maju di Jakarta memiliki multiplier effect yang luas. Bayangkan gedung tempat Anda bekerja, diisi banyak karyawan. Mereka manusia semua kan? Pasti butuh makan dan lainnya, maka tumbuhlah para penjaja makanan di sekeliling gedung. Bahkan kalau Anda lebih memilih makan di mall, saya yakin para pegawai mall pas istirahat tetap saja makan siang di PKL tadi.

Ada gula ada semut, sepanjang ada pembangunan maka akan muncul para enterprenur PKL tadi. Yaps, PKL termasuk enterpreneur kawan. Karena pada hakikatnya istilah “enterpreneur” hanyalah sebuah kata untuk semua pengusaha, baik kecil atau besar.

Pedagang Kaki Lima, Haruskah Ada Di Metropolitan?

Ngeri-ngeri sedap dengan pertanyaan ini. Becak sudah tinggal sejarah di ibukota negara ini, alasannya kemacetan. Akankah PKL juga akan bernasib serupa?

Semoga tidak punah, karena jika kita melihat secara roda ekonomi (“tanpa bermaksud tertentu terhadap profesi lain”) keberadaan PKL menggairahkan pola bisnis di Jakarta. Memang benar bahwa lebih dari 60% duit Indonesia muter di Jakarta, dan penikmat utamanya jelas bos-bos besar. Tapi jangan lupa bahwa sektor kecil dan mikro memberi dampak dan terkena cipratan yang lumayan pula.

Banyaknya urban berpendidikan, menarik secara tidak langsung kaum urban berkeahlian. Golongan sarjana di perkantoran, layaknya gula bagi para PKL. Ini mirip simbiosis mutualisme. Bahkan jika Anda memahami cara berinvestasi yang benar, naruh duit di PKL itu bisa menghasilkan capital gain lumayan asal dikontrol dengan baik.

Yang diperlukan pemerintah saat ini bukanlah sapu bersih PKL di jalanan, tetapi relokasi yang masuk akal. Saya agak geli ketika di area perkantoran, PKL dilarang berjualan di jalan yang memang tidak dilewati orang banyak ketika jam kerja. Karena jalan tadi memang hanya digunakan karyawan kantor pas berangkat dan pulang.

Well, sebenarnya sih itu menyusahkan kaum PKL dan karyawan kantor nya lhoh. Bahkan meski direlokasi, tetapi dengan jarak yang “wow” dari pusat kantor, saya rasa akan sedikit useless.

Pernah ke kawasan Sabang di malam hari? Rame dan macet meski PKL nya tertata rapi, tetapi sudah bagus itu. Dibanding mereka berjajar sembarangan, dan menurut saya memberi faedah yang besar karena berada di pusat perkantoran Jakarta Pusat.

Berjualan di Mall Mahal

Pernah beli sate mak Adjat yang terkenal karena dibawa langsung oleh Bung Hatta ke Jakarta?

Kalau belum, jangan coba cari di Mall deh, enggak bakal ketemu. Meski sekarang ownernya sudah kaya raya, tetapi dia enggan sekali untuk mencoba berjualan di mall.

Si Ganteng : Bos, kenapa ente ga mau jual ke mall. GI dan PI, kan pelanggan yang tajir banyak tu. Pasti mereka demen dah.

Boss Mak Adjat : Ah, cuma bikin kaya yang punya mall. Sewanya gila-gilaan..

Banyak sekali PKL yang omzetnya sudah luar biasa besar, tapi memilih bertahan di jalan daripada masuk kedalam kemegahan mall. Selain harga sewa yang relatif mahal, saya melihat bahwa interaksi antar manusia lebih mudah terjalin. Sekian aja ah obrolan tentang PKL, semoga tetap bisa mensupport perkembangan ekonomi Indonesia ke depan

See you pembaca LK!

Tags:

2 Comments

  1. Adelina Tampubolon Maret 9, 2017
    • Andhika Diskartes Maret 9, 2017

Leave a Reply